Kisah Anak yang Mendambakan Kasih Sayang Ibu | Cari Kata - Kata Mutiara

Jumat, 31 Mei 2013

Kisah Anak yang Mendambakan Kasih Sayang Ibu

gambar kata kata mutiara
Halo sobat pembaca yang baik :) Berikut ini adalah Kisah anak yang sedih dan mengharukan tentang seorang ibu yang sibuk dan anaknya yang ingin dimandikan ibunya, seorang anak yang mendambakan sentuhan kasih sayang ibunya. Tidak diketahui secara pasti siapa penulis cerita ini , begitu juga  apakah ini kisah nyata atau bukan. Namun ada pelajaran yang sangat  berharga yang bisa kita ambil dari kisah mengharukan ini.Selamat membaca.
__
Kisah:
"Mandikan Aku, Bunda!"

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini  berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus,  sikap dan konsep dirinya sudah jelas: “meraih yang terbaik” di bidang  akademis maupun profesi yang akan ditekuninya. ''Why not to be the  best'', katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional  di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya  lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.

Singakt cerita, Rani mendapatkan pendamping yang ''selevel'', sama- sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka,  lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan  tuntasnya sang suami meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka.  Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah  ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar  “Alifya”. Saya tak sempat mengira, apakah mereka bermaksud  menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir?

Ketika Alif, panggilan putera mereka, berusia 6 bulan, kesibukan Rani  semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu  kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya  saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk  ditinggal-tinggal? '' Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah  mengantisipasi segala sesuatunya. "Everything is OK!'' Ucapannya itu  betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani  secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal angkat telpon  untuk mengecek keadaan Alif.

Alif kecil tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan cepat  mengerti. Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu  semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan  nama besar, selalu naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.  ''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu  nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang  tidurnya.

Saat Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik.  Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali  menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk  menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi Alif kecil  ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek  minta adik. Alif sepertinya mewarisi karakter ibunya yang bukan  perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang  sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut  kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani selalu menyapanya  ''malaikat kecilku''. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya.  Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh dengan penuh  cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif  menolak dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda yang mandikan,''  ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya  sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil  tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya  pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby  sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya  cemberut. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda,  Mandikan Aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan  suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra- sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk,  akhirnya Alif bisa ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telpon dari Mien, sang baby  sitter, ''Bu, kami ke dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang  di Emergency'' Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too  late. Tuhan sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, sudah  dipanggil pulang oleh-Nya.

Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya.  Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah  memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani  memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya  sendiri. Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si  kecil terbaring kaku.''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya  lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani  menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis. Ketika  tanah merah telah mengubur jasad si Alif kecil, kami masih berdiri  mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu,  berkata, ''Ini sudahtakdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya  ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga  kan? '' Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari  orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias,  tatapannya kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani,  tetap mencoba tegar dan kuat.

Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja. Tiba-tiba  Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu  hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih- lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan  Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..''  Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan  tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang  menaungi jasad Alif.

Senja pun makin tua. Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi  menolong. Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan  kehilangan yang amat sangat. Sering kali orang sibuk 'di luaran',  asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang- orang dekat yang disayanginya. Selalu meyakinkan diri bahwa akan  masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu. Sering  kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang  yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti  karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.

Sungguh kisah anak yang sedih dan sangat mengharukan, semoga kita semua yang  membacanya bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya dari Kisah ini. (ck)





Sumber: nn

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...